Astragraphia Ngobrol Asik Bersama Mahasiswa Desain Komunikasi Visual

Astragraphia Ngobrol Asik Bersama Mahasiswa Desain Komunikasi Visual

Berkaitan dengan dengan penyelenggaraan event bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Asosiasi Profesional Desain Komunikasi Visual Indonesia (AIDIA) di Yogyakarta, Astragraphia juga mengadakan talkshow bertema “Ngobras Masal: Ngobrol Asik Bersama Mahasiswa Desain Komunikasi Visual,” yang dihadiri oleh antara lain Bp. Fahmy Akmal selaku Kasubdip Bispen Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bp. Irawan A. Prasetyo selaku Senior Manager GCS Business Group, Fuji Xerox Asia Pacific Operation, Bp. Eka Sofyan Rizal selaku Sekretaris Jenderal AIDIA Pusat , Alit Ayu Dewantari selaku salah satu peserta workshop Beyond Imagination serta Satryo Dewandono selaku Chief of Business Planning & Marketing PT Astra Graphia Tbk

Pada kesempatan tersebut, Bp. Fahmy Akmal mengungkapkan bahwa Yogyakarta sebagai salah satu dari 5 provinsi di Indonesia dengan pertumbuhan ekraf tertinggi menyumbang PDB ekonomi kreatif yang cukup besar yaitu mencapai 16,12 persen dari total PDB ekonomi kreatif Indonesia. Ada lebih dari 172 ribu pelaku ekonomi kreatif Yogyakarta dengan tiga subsektor terbesarnya bergerak di usaha kuliner (106 ribu), kriya (36 ribu), dan fesyen (23 ribu). Sementara empat sektor lainnya bertumbuh dengan pesat: TV dan Radio 10,35%, film/animasi/video sebesar 10,30%, fotografi 8,26 %, dan DKV: 8,14%.

Fahmy juga mengatakan bahwa subsektor seperti kuliner, fesyen, kriya dan lainnya membutuhkan desain produk yang baik agar produk tersebut bisa diterima oleh pasar. Dari sinilah pihaknya melihat perlu adanya sinergi agar DKV dapat berkembang pesat dan berkontribusi dalam memberikan nilai tambah suatu produk industri kreatif di Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa desain grafis dan desain produk merupakan elemen penting dalam mempercantik tampilan produk, baik dari bentuk, warna hingga kemasan. Tampilan identitas visual yang menarik dari cerita, grafis maupun kualitas cetak, akan mampu memberikan kesan yang baik atas sebuah produk.

Untuk memenuhi kebutuhan visualisasi produk, para desainer grafis harus juga mengupdate pengetahuan mereka mengenai teknik cetak serta mesin cetak yang bisa menghasilkan kemasan produk tertentu. Ini untuk mengantisipasi hasil akhir yang seringkali tidak sesuai dengan rancangan yang diilustrasikan pada PC atau laptop. Apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi cetak yang semakin modern dan kaya warna.

Menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana Astragraphia melihat industri kreatif di Yogyakarta dan sekitarnya, Satryo Dewandono selaku Chief of Business Planning & Marketing PT Astra Graphia Tbk menyatakan bahwa Astragraphia sangat mendukung industri kreatif di Yogyakarta untuk bersaing dengan mengembangkan aspek people, technology, dan process.

Dari aspek People, Astragraphia memberikan edukasi berupa seminar, workshop, dan exhibition. Kemudian dari aspek Technology, Astragraphia Document Solution bermitra dengan printshop lokal menghadirkan Fuji Xerox Iridesse Production Press sebagai mesin digital printing pertama di dunia yang menawarkan special color (gold, silver, white, dan clear) di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk mendukung setiap pemain industri kreatif. Terakhir dari sisi Process, Astragraphia memiliki printing showroom di mana publik dapat melihat proses cetak hingga finishing.

Sejak tahun 2017 Astragraphia juga memberikan sharing knowledge/pelatihan untuk para siswa SMK Grafika, Mahasiswa Desain, dan profesional desain yang tergabung dalam Asosiasi Designer Grafis.

 

This entry was posted in Uncategorized by Astragraphia Document Solution. Bookmark the permalink.

About Astragraphia Document Solution

Astragraphia mengawali perjalanan bisnis pada tahun 1971 sebagai Divisi Xerox di PT Astra Internasional yang kemudian dipisahkan menjadi badan hukum sendiri pada tahun 1975. Pada tanggal 22 April 1976 Astragraphia ditunjuk secara langsung sebagai distributor ekslusif dari Fuji Xerox Co. Ltd. Jepang untuk seluruh Indonesia dengan ruang lingkup usaha sebagai penyedia perangkat perkantoran. Tahun 1989 Astragraphia mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya) dengan simbol saham ASGR. Per tanggal 31 Desember 2009, 76,87% saham Astragraphia dimiliki oleh PT Astra International Tbk, dan sisanya dimiliki oleh publik. Sejalan dengan tuntutan kebutuhan pelanggan yang dinamis dan perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi, sejak tahun 1990-an Astragraphia mulai merintis transformasi bisnis menjadi penyedia solusi teknologi informasi. Sejak tahun 2008 manajemen telah memantapkan ruang lingkup usaha Astragraphia sebagai penyedia bisnis berbasis teknologi informasi & komunikasi atau yang dikenal dengan sebutan ICT (Information & Communication Technology). Kantor pusat Astragraphia terletak di Jalan Kramat Raya 43, Jakarta 10450, dan memiliki 92 titik layan di 32 kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s