Iridesse Hasilkan Cetakan Foto Jurnalistik Berkualitas dalam Buku “Membangun Indonesia”

Foto Jurnalistik

Puluhan foto yang merangkum perjalanan lima tahun kinerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla periode 2014-2019 bersama Kabinet Kerja, diabadikan dalam buku bertajuk “Membangun Indonesia.” Peluncuran buku fotografi tersebut menampilkan 67 buah foto hasil karya 47 orang pewarta foto Istana Kepresidenan yang sudah melalui proses kurasi oleh fotografer senior Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar Rahmatullah.

Peluncuran buku tersebut bersamaan dengan pameran foto yang dibuka oleh Mensesneg Pratikno. Dalam sambutannya, Mensesneg mengatakan bahwa ia mengapresiasi hasil karya para wartawan yang luar biasa dalam tugasnya mengikuti kegiatan Presiden Jokowi baik di dalam dan di luar Istana Kepresidenan.

Fotografer Rakyat Merdeka, Randy Tri Kurniawan yang bertindak sebagai inisiator acara, beserta pewarta foto lainnya menampilkan foto Presiden Jokowi dari sisi humanis serta beberapa karya foto saat melakukan aktivitas sebagai kepala negara serta saat bersama para menteri Kabinet Kerja.

Presiden Jokowi sendiri berkesempatan mengunjungi pameran tersebut dengan didampingi oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Salah satu foto yang menjadi favorit Presiden Jokowi adalah foto saat dirinya menggendong anak Papua pada kunjungan kerja ke Kabupaten Asmat, Papua. “(Paling favorit) yang dengan gendong anak Papua. Yang ngambil sangat pintar, enggak tahu dari sudut depan atau sudut samping, tapi bagus,” jelas Presiden.

Dari sebanyak 700 karya foto yang masuk ke meja panitia, terseleksi 97 foto yang ditampilkan di dalam buku “Membangun Indonesia.” Dan Astragraphia mendapat kehormatan dipercaya untuk mencetak foto-foto jurnalis dalam buku “Membangun Indonesia” dengan mesin Iridesse, yang memiliki resolusi 2.400 x 2.400 dpi, dan penggunaan dua tinta tambahan yaitu gold dan silver selain tinta CMYK. Kualitas cetak yang sempurna untuk karya foto yang berkelas.

Astragraphia Jalin Relasi dengan APPTI Jabodetabek dan Banten 2019

APPTI

Sebagai bentuk kepedulian dalam mendukung potensi penerbitan perguruan tinggi yang ada di Indonesia, Astragraphia hadiri kegiatan Musyawarah Wilayah (Muswil) APPTI Jabodetabek dan Banten 2019. Acara tersebut telah berlangsung pada Kamis, 14 November 2019 di D’Polimedia Hotel Politeknik Negeri Media Kreatif.

APPTI hadir untuk memperkuat jaringan antar penerbitan perguruan tinggi di Indonesia di tengah maraknya penerbitan umum berorientasi profit.  Agenda tahunan Muswil APPTI merupakan sarana silahturahmi bagi para anggotanya terdiri dari badan – badan penerbit perguruan tinggi (university press) di Indonesia, yang mengangkat tema: “Menuju APPTI Jabodetabek dan Banten yang Unggul dalam Penerbitan Buku Perguruan Tinggi”.

Astragraphia Document Solution sebagai distributor eksklusif dari Brand Fuji Xerox hadir menyediakan layanan solusi perdokumenan terintegrasi, inovatif, end-to-end mulai dari produk kategori skala perkantoran hingga solusi pencetakan berskala produksi. Oleh karena itu, APPTI Jabodetabek dan Banten menggandeng Astragraphia Document Solution sebagai penyedia solusi inovasi University Press.

Solusi University Press merupakan salah satu andalan portfolio Graphic Communication Services (GCS) yang menggunakan konsep print-on-demand. Solusi tersebut telah diterapkan untuk menunjang publikasi karya ilmiah yang telah dihasilkan para dosen, peneliti akademisi muda di beberapa universitas besar yang ada di Indonesia antara lain: Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lainnya.

Dalam acara tersebut, Astragraphia Document Solution diwakili oleh Bp. Heri Sumaryanto – (Graphic Communications Service Product Marketing Dept Head PT Astra Graphia Tbk) dan Bp. Agung Nugroho selaku (Business Consultant PT Astra Graphia Tbk) yang memaparkan solusi cetak digital melalui mesin dan teknologi terkini dari Astragraphia yang dapat meningkatkan produktivasi University Press.

Makna Bercerita di Balik Sebuah Foto Karya Para Pewarta Foto Indonesia

Buku Foto

Malam Anugerah Pewarta Foto 2019 (APFI 2019) telah berhasil diselenggarakan bersamaan dengan acara pembukaan pameran foto tadi malam di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta. Malam Anugerah Pewarta Foto Indonesia merupakan sebuah ajang bergengsi yang menampilkan hasil karya jepretan serta rekam momen kejadian terbaik apa saja yang telah terjadi selama kurun tahun 2018 dari para jurnalis foto se-Indonesia.

Astragraphia kembali dipercayakan untuk terlibat dalam proses pencetakan Buku APFI 2019. Kerja sama Astragraphia dengan Pewarta Foto Indonesia merupakan yang ke-4 kali sejak tahun 2016. Sebagai bentuk dukungannya kepada para insan pewarta foto, Astragraphia hadir, termasuk menjadi salah satu sponsor utama, yang membantu proses pencetakan buku foto 2019. Cover buku dicetak dengan menggunakan special color silver yang memukau dari teknologi mesin Fuji Xerox Iridesse Production Press. Lalu, pada bagian halaman isi dicetak dengan FujiFilm Jetpress 750s – sebuah teknologi digital offset tercanggih dan terbaru dari Fuji Film dan solusi cetak short-run dan on-demand dengan kualitas yang mampu mencapai bahkan melebihi kualitas offset. Melalui kerja sama ini, Astragraphia berharap dengan kehadiran buku APFI 2019 tersebut, orang dapat melihat secara langsung rekam jejak berbagai peristiwa dalam sebuah buku foto dengan tampilan kualitas cetak terbaik dari mesin Fuji Xerox dan FujiFilm Jetpress 750s.

Dewan juri untuk Anugerah Perwarta Foto Indonesia 2019 diketuai oleh Bp. Oscar Matuloh – Senior Jurnalis Foto. Beliau mengatakan, orang yang hadir dapat melihat bagaimana sebuah foto yang diambil di masa lalu dapat bercerita kemudian akhirnya dapat memberikan makna hingga jangka yang panjang. Dalam penyelenggaraan APFI tahun ini, terdapat beberapa kategori penghargaan antara lain: Spot News, Nature & Environment, General News, People in the News, Sports, Arts & Entertainment, Multimedia, Citizen Jurnalism,  Photo of The Year dan Life Time Achievement.

Para dewan juri APFI 2019

Ruang Kreasi dan Ekspresi Tanpa Batas Bagi Desainer Grafis Indonesia, Astragraphia Sponsori Pameran Seek A Seek #2

Seek A Seek

Pameran Desain Grafis, Seek A Seek #2 [baca: Asyik Asyik Jilid 2] kini telah resmi dibuka pada Jumat kemarin di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang. Acara pameran ini akan berlangsung mulai dari tanggal 29 November sampai dengan 31 Januari 2020. Seek A Seek merupakan ajang perayaan karya terbaik dari para pelaku grafis atau desain komunikasi visual. Tema yang diangkat dalam pameran Seek A Seek #2 adalah “Kon/jun/gsi”, yang mengambil makna yaitu respons atau melakukan upaya penyambung dan memperat komunitas dessainer dalam menghadapi isu dan tantangan yang akan menghadapi di bidang desain grafis pada masa mendatang seperti: era digital, revolusi industri 4.0 dan lainnya.

Pameran Seek A Seek bertujuan untuk menyajikan karya – karya terbaik dari pelaku desain grafis dan memperkenalkan kembali kepada khalayak umum mengenai bidang desain grafis yang sering dipersempit dengan perancangan ‘cetak.’ Selama pameran, pengunjung juga diselenggarakan pasar seni Smart Dialogue, lokakarya, talkshow dan pertunjukkan musik. Oleh karena itu, kegiatan Seek A Seek dibutuhkan untuk terus dapat menciptakan ruang kreasi dan ekspresi bagi para desainer muda agar memiliki kesempatan untuk saling berkolaborasi menciptakan karya berkualitas dan mengedukasi masyarakat tentang nilai dari profesi desain grafis.

Acara ini terselenggara atas kolaborasi antara Dia.Lo.Gue, Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), Desain Grafis Indonesia (DGI), The Whiteboard Journal dan disponsori oleh Astragraphia. Dari sisi Astragraphia, yang merupakan distributor eksklusif Fuji Xerox, berkomitmen dalam mendukung komunitas desain grafis agar dapat teredukasi sehingga dapat menciptakan hasil karya yang berkualitas. Melalui kehadiran fitur dan spesifikasi teknologi digital printing dari Fuji Xerox, Astragraphia pun turut sponsori untuk pencetakan poster dan brosur selama event Seek A Seek berlangsung. Sehingga para komunitas desainer pun dapat melihat secara langsung kualitas hasil cetak dari mesin production printer Fuji Xerox. Harapannya, dengan kehadiran mesin digital printing Astragraphia dapat memberikan kontribusi positif dan mendorong pelaku kreatif, khususnya desainer grafis untuk semakin giat menciptakan karya-karya inovatif yang berguna bagi masyarakat.

Astragraphia Dorong Aktor Pertumbuhan Industri Kreatif Lokal

Peran Desain Grafis untuk Industri Kreatif Lokal

PT Astra Graphia Tbk bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Asosiasi Profesional Desain Komunikasi Visual Indonesia (AIDIA) menyelenggarakan diskusi bersama media mengenai Peran Desain Grafis untuk Industri Lokal di Kedai Kolega, Yogyatourium Dagadu Djokdja. Berdasarkan data dari Badan Ekonomi Kreatif, kontribusi terbesar subsektor ekraf terhadap PDB, adalah sektor kuliner sebesar 41,40%, fashion sebesar 18,01%, dan kriya (labelling, packaging) sebesar 15,40% sementara subsektor DKV, Film/ Animasi/ Video, Seni Pertunjukan dan TV/ Radio merupakan empat subsektor potensial yang mengalami pertumbuhan tertinggi di tahun 2016.

Yuana Rochma Astuti – Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri, Deputi Pemasaran Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) mengatakan, “Keberadaan industri kreatif Indonesia telah menjadi motor penggerak perekonomian nasional. DKV merupakan satu dari empat subsektor ekraf yang mengalami pertumbuhan pesat di mana DKV bertumbuh 8,98% di tahun 2016.1 Hal ini menunjukkan bahwa DKV memiliki peran penting dan mampu memberikan dampak besar terhadap subsektor ekraf seperti kuliner, fesyen, dan kriya.”

Mengutip data dari portal Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pertumbuhan industri kreatif di DIY semakin pesat berkembang dalam satu dekade terakhir. Terdapat lebih dari 172 ribu pelaku ekonomi kreatif, dimana lima subsektor terbesarnya bergerak di usaha kuliner, kriya, fesyen, penerbitan, dan fotografi. Subsektor kuliner sekitar 106 ribu usaha, kriya 36 ribu usaha, fesyen 23 ribu usaha, penerbitan 3 ribu  usaha, dan fotografi sekitar seribu usaha, ditambah banyaknya industri kreatif digital.

Yuana Rochma Astuti – Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri, Deputi Pemasaran Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) menambahkan, “Yogyakarta merupakan satu dari lima provinsi di Indonesia penyumbang PDB Ekraf terbesar pada 2016, di mana tiga subsektor terbesarnya bergerak di bidang kuliner, kriya, dan fesyen. Ketiga subsektor tersebut membutuhkan keberadaan desain grafis untuk mendukung industri kreatif dalam menciptakan tampilan produk yang menarik seperti packaginglabelling, atau katalog. Yogyakarta juga merupakan salah satu provinsi dengan persebaran pelaku kreatif DKV terbesar selain Bandung dan DKI Jakarta. Meningkatnya kebutuhan akan Desain Komunikasi Visual memberi dampak terhadap sektor ekonomi kreatif lain. Dengan tampilan yang unik, modern, dan colorful akan melipatgandakan nilai sebuah produk kreatif sehingga dapat berkompetisi di pasaran.”

Eka Sofyan Rizal – Sekretaris Jenderal Asosiasi Profesional Desain Komunikasi Visual Indonesia (AIDIA) mengatakan, “Kami optimis desain grafis akan tumbuh pesat karena identitas visual adalah hal penting bagi pelaku industri kreatif. Desain komunikasi visual atau desain grafis merupakan sebuah elemen penting terutama dalam menciptakan kesan pertama terhadap tampilan suatu produk. Tampilan identitas visual yang menarik, baik dari cerita, bentuk, warna,  grafis maupun kualitas cetak, akan mampu memberikan kesan yang baik atas produk yang ada.”

Perkembangan industri kreatif Indonesia yang pesat menginisiasi Astragraphia Document Solution untuk turut berkontribusi terhadap industri kreatif lokal.  Sebagai distributor eksklusif Fuji Xerox, Astragraphia Document Solution memperkenalkan mesin Iridesse Production Press untuk pasar Indonesia pada tahun 2018 dan telah menghadirkan mesin Iridesse Production Press di beberapa daerah seperti Jabodetabek, Sumatera, Jawa, Bali, NTT, dan Kalimantan serta memberikan edukasi kepada para mahasiswa desain grafis di kota-kota tersebut. Saat ini, Astragraphia Document Solution menambah kehadiran Fuji Xerox Iridesse Production Press di tiga printshop lokal di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Explora Digital Printing, Imperial Digital Printing, Prima Printshop & Copycentre, dan satu printshop di kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah yaitu Sampurna Printshop.

Mangara Pangaribuan – Direktur PT Astra Graphia Tbk mengatakan, “Astragraphia berkomitmen untuk mendukung industri kreatif lokal secara end-to-end dengan berfokus pada aspek People, Processdan TechnologyPertama dari aspek People, Astragraphia memberikan edukasi berupa seminar, workshop, dan exhibition. Kemudian dari sisi Process, Astragraphia memiliki printing facilities dengan menyediakan teknologi untuk pre-press, press, post-press, di mana publik dapat melihat proses cetak hingga finishing. Terakhir dari aspek Technology, saat ini Astragraphia Document Solution menghadirkan Fuji Xerox Iridesse Production Press sebagai mesin digital printing pertama di dunia yang menawarkan special color (gold, silver, white, and clear) di empat printshop lokal di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami harap, dengan adanya printshop lokal yang memiliki mesin Iridesse Production Press dapat dengan mudah menjawab kebutuhan pencetakan tampilan produk para pelaku industri kreatif.”

Bentuk dukungan terhadap industri kreatif Yogyakarta diwujudkan Astragraphia Document Solution bersama dengan AIDIA melalui serangkaian acara yang dimulai dari tanggal 20 sampai 30 November2019Rangkaian acara dimulai dengan menyelenggarakan edukasi berupa workshop tentang aplikasi desain special colour dan finishing produk desain kepada para mahasiswa, akademisi DKV, dan desainer grafis profesional. Seluruh hasil cetak dari para peserta workshop juga diperlihatkan di exhibition di Yogyatourium Dagadu Djokdja. Selain itu, Astragraphia Document Solution bersama AIDIA mengadakan edukasi berupa talkshow bertajuk “Ngobras Masal (Ngobrol Asik Mahasiswa Komunikasi Visual): Peran Desain Grafis Untuk Industri Kreatif Lokal”  untuk seluruh mahasiswa DKV di Yogyakarta.

“Edukasi dari Astragraphia bersama AIDIA memberikan wawasan baru untuk saya dan para praktisi desainer grafis lainnya. Kami menjadi tahu lebih jauh bagaimana warna-warna spesial  dalam desain dapat di-visualisasikan dengan baik sehingga mendapatkan finishing produk desain dan hasil cetak yang sesuai dengan harapan desainer. Kami pun jadi tahu di mana kami bisa mencetak secara on demand jika memiliki desain dengan warna spesial seperti gold, silver, white, dan clear,” ungkap Alit Ayu Dewantari – Peserta Workshop Beyond Imagination yang diselenggarakan Astragraphia bersama AIDIA.

Ketekunan Agus Muhardi Buka Usaha Fotocopy & Printing di Bogor

Agus Muhardi

Agus Muhardi, lahir 23 Desember 1968, pendidikan terakhir S1 Tarumanegara lulus tahun 1987. Ia membuka usaha fotokopi dan percetakan retail di Bogor dengan nama OKE Print pada tahun 2009. Awalnya, coba-coba usaha fotokopi dan percetakan. Ia mulai mengontrak satu ruko, di jalan jenderal Sudirman, Bogor. Saat pertama kali, tentu mesin yang digunakan masih sangat sederhana. Beli mesin cetak docucolor bekas.

Saat usaha mulai berjalan, Ibunda Agus wafat. Agus tidak tega meninggalkan Bapaknya sendirian, karena Bapaknya tidak mau pindah, akhirnya, keluarga Agus lah yang pindah ke jalan Air Mancur, Bogor, mulai tahun 2010. Di Air Mancur, Agus memberanikan diri membeli mesin Fuji Xerox docucolor 8000, dan C700 press.

Pada tahun 2011, Agus ditawari oleh Astragraphia,  untuk instalasi Fuji Xerox C1000 press. Mesin ini diinstal pada awal tahun 2012. Ternyata dengan mesin ini, Oke Print semakin mampu memenuhi kebutuhan market printing di Bogor.

Secara volume, market di kota Bogor memang  belum begitu besar. Ini dikarenakan kondisi kota Bogor yang tidak terlalu jauh dengan Jakarta. Banyak broker di Bogor yang sudah tahu wilayah Kalibaru, Jakarta Pusat. Mereka selalu membanding-bandingkan dengan harga disana.

Agus Muhardi 2

Cabang ke-2 di Cibinong, sebenarnya berasal dari usahanya yang pertama, Ruko yang di Jalan Sudirman tidak diperpanjang lagi. Semuanya dipindahkan ke cabang Cibinong. Mesin lamanya, diganti menjadi Fuji Xerox Docu color 8000. Cabang ke-3 OKE Print, yaitu di jalan Pahlawan, Bondongan, Bogor. Kami sudah pakai C800 press. Cabang ke-4 masih di daerah Cibinong. Agus juga menambah workshop yang tidak terlalu jauh dari cabang ke-2 nya. Di tahun 2014, kami menambah dua mesin Fuji Xerox Versant 2100 Press. Akhir tahun 2015, kami menambah mesin Fuji Xerox color 1000i Press dengan warna khusus silver.

Agus Muhardi memilih Astragraphia sebagai penyedia mesin-mesinnya karena selama Ia bergerak di bidang fotokopi dan printing, kesulitan pemain printing itu adalah maintenance dan support mesin. Menurut Agus, beli mesin mudah, tetapi dalam proses selanjutnya, ketika mesin mulai ada trouble, ada masalah, yang paling penting adalah support. Sejauh ini, yang Agus Muhardi kenal,  support yang paling bagus adalah dari Astragraphia.

Sejak mereka berdiri tahun 1971 sudah memegang brand Xerox. Dari sisi SDM, Astragraphia sudah membangun infrastruktur di dalamnya. Ia tahu, ada team teknis yang khusus menangani mesin yang begitu banyak tetapi juga mereka membuat divisi yang berbeda-beda untuk menangani itu. Agus berpikir ketika kita membangun usaha percetakan di Bogor, lalu kita tidak mendapat support yang bagus, akan sangat sulit. Kalau mau usaha lancar, tidur nyenyak, tidak diganggu dengan kondisi mesin yang rusak, Ia harus memilih partner vendor yang tepat. “Saya survei, apalagi kami di daerah, pilihan jatuh pada Astragraphia.

Kebetulan, Astragraphia sudah ada depo di Bogor. Saya benar-benar alami ketika saya awal usaha, Astragraphia hanya punya depo dan teknisi pun hanya ada dua, itu pun untuk mesin office saja. Ketika saya memasukkan mesin production, mereka mulai menyiapkan team teknisi production di Bogor. Bahkan pihak Astragraphia menambah teknisi khusus production hingga 3 orang di Bogor. Dari semua cabang, OKE Print kini ada 20 unit mesin dan semuanya adalah Fuji Xerox, ujar Agus Muhardi.

Sumber: Printgraphicmagz.com

Aneka eXpress Printing Instal Mesin Jetpress 750S (Generasi ke-3 Jetpress)

Test Print

Aneka eXpress Printing, percetakan retail yang berlokasi di Kepu Selatan, Jakarta Pusat, menginstalasi mesin cetak digital hi-end untuk industri commercial print, yaitu Jet Press 750S (Jet Press). Ini merupakan mesin cetak dengan teknologi digital terkini yang dibuat oleh Fujifilm. Jet Press adalah model unggulan baru yang dapat mencapai image berkualitas tinggi yang dapat menghasilkan output berkecepatan tinggi maksimum 3.600 lembar per jam dengan ukuran kertas B2 serta penggunaan printhead dan tinta terbaru dengan peningkatan kualitas dari fitur pendahulunya, Jet Press 720S, yang sudah diakui dunia.

Menurut Rudy Chandra (pemilik Aneka eXpress printing), mesin Jetpress 750S yang di-instal di percetakannya merupakan mesin generasi ke-3 dari seri Jetpress yang diluncurkan oleh Fujifilm. Mesin ini belum lama dirilis di Eropa dan Amerika pada bulan Januari 2019. Tentunya seri Jetpress yang di-instalnya ini telah mengalami berbagai penyempurnaan kualitas dari generasi-generasi sebelumnya. Mesin ini sangat cocok bagi Aneka eXpress terkait order-order cetaknya yang banyak menerima order-order cetak publishing dengan oplah short volume (misalnya 500 pcs). Bahkan dengan mesin ini, mampu mencetak separasi satu dua lembar saja. Sesuatu yang sulit dilakukan offset, karena proses cetak offset jadi lebih mahal untuk volume sangat sedikit. Sebelumnya, Rudy Chandra sempat menjajaki beberapa mesin cetak digital inkjet sejenis terutama yang berformat UV, tetapi justru cetak UV kurang cocok baginya, karena cetak UV menghasilkan tinta yang lebih tebal, sehingga mengakibatkan halaman per halamannya menjadi lebih tebal dan berefek pada ketebalan buku atau majalah. Walaupun kita ketahui, cetak UV banyak menghasilkan aplikasi-aplikasi kreatif.

Mesin ini tidak menggunakan system pay per klik tetapi dari sisi service, masih tetap ada biaya spare part insurance (SPI) per bulan. Tinta inkjet lebih murah dibanding tinta digital print lainnya, sehingga membuat cost production Jetpress 750S jauh lebih kompetitif.

Jet Press semakin meningkatkan produktivitasnya dengan mengadopsi teknologi eksklusif terbaru. Output berkecepatan tinggi 3.600 lembar per jam telah dicapai dengan meningkatkan kecepatan ejeksi tetesan printhead, meningkatkan akurasi dalam kontrol ejeksi tinta, dan mengadopsi mekanisme pengeringan baru. Dengan memperbesar ukuran kertas maksimum menjadi 750mm x 585mm, enam halaman ukuran B5 (ukuran umum buku) dapat dicetak pada satu lembar sehingga meningkatkan efisiensi produksi. Selain itu, JET PRESS juga dilengkapi dengan inspeksi kualitas gambar presisi tinggi baru, yang memeriksa setiap lembar cetakan secara visual untuk secara otomatis menentukan apakah pekerjaan pencetakan dilakukan dalam kualitas yang stabil. Ini mengurangi jumlah jam kerja yang dibutuhkan untuk inspeksi dan penyortiran setelah dicetak. Mekanisme pengeringan baru ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat kertas tercetak rata serta mengurangi jumlah listrik yang dikonsumsi sekitar 20%. Panjang penuh unit pengeringan adalah 70cm lebih pendek dari model sebelumnya, mengurangi ruang instalasi sekitar 15% sehingga dapat dipasang di ruang yang lebih kecil.

Di bulan September tahun 2019, Aneka eXpress membuat sebuah terobosan besar di dunia industri grafika Indonesia, yaitu keberaniannya untuk menginstalasi mesin “flagship” digital inkjet press keluaran Fujifilm, Jet Press 750S. Ini merupakan instalasi pertama Jet Press 750S di Asia Tenggara.

Di awal Oktober, di tengah acara launching instalasi Jet Press di Aneka eXpress, redaksi mendapat kesempatan mewawancarai secara khusus owner Aneka eXpress, Rudy Chandra. Beliau menyampaikan beberapa hal penting terkait instalasi mesin Jet Press di percetakan miliknya. Berikut ini petikan wawancaranya:

Jetpress

Bisa dijelaskan sedikit tentang Jet Press 750S, Pak? dan apa perbedaan dengan generasi pendahulunya, Jet Press 720S?

Dari segi tinta berbeda, konsumsi listrik lebih hemat, dan kecepatannya juga lebih tinggi. Lalu yang membedakannya lagi dengan Jet Press 720S adalah untuk seri Jet Press 750S telah dilengkapi system AHR (Active Head Retraction), yang berfungsi printhead menyesuaikan diri terhadap jaraknya dengan kertas, ini dilakukan jika ada ketidakrataan kertas terdeteksi. Terkadang kertas tidak selalu rata, ada yang bergelombang karena kelembaban. Nah, sistem AHR akan menaikkan masing-masing modul printhead satu persatu, sehingga lembar yang bermasalah tidak akan menabrak printhead, sehingga menghindari ‘jammed’. produksi tidak perlu tergangggu. Jarak antara printhead dengan delivery sekarang bisa menyesuaikan diri hingga sekitar 5 milimeter, kalau di seri sebelumnya Jetpress 720S hanya sampai 2 milimeter.

Jet Press 750S merupakan game changer dari teknologi konvensional. Yang kami ketahui, selama ini Aneka eXpress lama bermain di cetak konvensional. Apakah rencana Bapak, semua mesin offset akan diganti semua dengan mesin cetak digital?

Mungkin untuk mengganti semua mesin cetak offset kami dengan mesin digital Inkjet press, belum, yah. Tetapi untuk oplah-oplah dibawah 1000 pcs sudah mulai dipindahkan ke mesin Jet Press. Karena sekarang orang cenderung cetak tidak mau stok. Mereka mencetak disesuaikan dengan kebutuhannya saja (print on-demand). Mesin Jet press cocok dengan oplah-oplah order short-run.

Dari sekian banyak mesin inkjet press terbaru, kenapa Bapak pilih Jet Press 750S? Apa alasannya?

Saya sendiri telah melihat dan membandingkan berbagai mesin inkjet press. Untuk saat ini yang paling siap, menurut saya adalah Fujifilm. Pertama, penjualannya yang paling banyak saat ini. Kualitasnya juga sudah bagus. Lalu, saya lihat produsen lainnya masih belum terlalu siap, kebanyakan masih project beta. Mungkin pengembangan dari produsen lain di tahun-tahun ke depannya, akan muncul. Tetapi untuk saat ini, saya pandang, Fujifilm yang paling siap. Lalu faktor dealer Jet Press yang ada di Indonesia, yaitu Astragraphia saya anggap telah terbukti sebagai vendor dengan after sales service terbaik saat ini.

Kenapa tidak memilih digital inkjet UV yang bisa dicetak di segala macam substrat?

Cetakan UV cenderung menebal karena faktor tintanya yang timbul. Bila untuk produksi buku, punggung buku menjadi terlalu tebal. Misalnya bila buku bila dicetak dengan offset, punggung bukunya setebal 1 cm, kalau naik cetak di mesin UV, punggung bukunya bisa menjadi 1,2 cm. Ini tidak cocok untuk kami yang lebih banyak cetak produksi buku. Cetak dengan tinta UV lebih cocok untuk industri kreatif.

Bagaimana sistem pembelian mesin Jet Press 750S dan perbandingan cost produksi antara Jet Press 750S dengan offset?

Untuk biaya cetak per set dengan oplah dibawah 500 pcs, biaya produksinya masih lebih murah Jet Press, tetapi bila produksi dengan oplah diatas 500 pcs, biayanya lebih murah dengan offset. Kemudian, bila dibandingkan dengan mesin cetak digital lainnya, mesin ini dijual secara lepas, maksudnya tidak ada biaya pay per klick, tetapi tetap ada biaya-biaya insurance, seperti spare part insurance (SPI). Ini jauh lebih memudahkan bagi kami dan memiliki kepastian perihal biaya produksi tanpa harus dibayang-bayangi pay per klik yang tiba-tiba naik.

Sumber: printgraphicmagz.com